Jadikan Ontel Sebagai Kebutuhan Bukan Trend Semata

 

 

 

 

 

 

 

 

” Kita harus tanamkan bahwa naik sepeda itu sehat, hemat, anti polusi. Naik onthel jangan dijadikan sebagai trend semata tapi jadikanlah sebagai kebutuhan,” ujar onthelis dari Kota Sibolga ini dengan penuh semangat”.

Ini adalah petikan dari wawancara yang dilakukan oleh Teropong Kaca dengan Kurniawan Kantinoko melalui chatting dengan fasilitas Yahoo Massenger di intenet untuk bercerita tentang sepeda. Pembicaraan ini terpaksa dilakukan melalui chatting di Yahoo Massenger karena beberapa kali janji untuk ketemu selalu gagal dilaksanakan karena kesibukan masing-masing.

Setelah menyelesaikan pendidikan pada SMA Negeri 6 Palembang tahun 1993, beliau melanjutkan pendidikan ke STPDN di Jatinagor, Bandung dan selesai tahun 1997. Kurniawan yang masih remaja langsung bertugas di Pemerintah Kota Sibolga sebagai PNS dan terakhir menjabat sebagai camat di Kecamatan Sibolga Kota. Tak lama bertugas sebagai camat kemudian melanjutkan pendidikan ke UGM untuk menambah ilmu di jenjang S-2 dengan konsentrasi Public Policy dan tamat pada tahun 2007, kini sibuk dengan rutinitas sebagai Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip di Pemerintah Kota Sibolga.

Ada kenangan manis yang tak terlupakan oleh beliau bila mengingat masa kecilnya. Ia sudah belajar sepeda sejak umur 4 tahun di Kota Palembang Sumatera Selatan asalnya panganan pempek-pempek. Kadang jatuh berguling-guling sampai lecet dan bahkan berdarah karena jatuh saat belajar naik sepeda. Dipandu oleh abangnya yang berjarak umur lebih dari 8 tahun beliau dengan tekun melatih diri agar bisa mengendarai sepeda. Pernah satu ketika beliau menabrak pagar kawat berduri gara-gara rem blong dan juga menabrak drum di tengah jalanan yang rusak sampai berakibat hidung mimisan. Rupanya selain rem blong sepeda yang digunakan bukan sepeda mini untuk anak-anak tapi sepeda untuk orang dewasa. Pernah dalam HUT PUSRI di Palembang dia mendapat juara I dalam kategori sepeda hias dan juga juara I sepeda lambat masuk garis finish. Kurniawan terkekeh-kekeh mengingat kisah kecilnya karena sepeda yang digunakan telah dimodifikasi panjangnya menjadi 3,5 meter, sampai-sampai kalau ditikungan harus ekstra hati-hati agar tidak terjatuh.

Dalam berburu sepeda onthel Kurniawan menguraikan bahwa dia memiliki rasa kepuasan tersendiri yang tak terbayar nilainya. Sepeda onthel merk Philips yang diperoleh menjelang magrib langsung dipreteli hingga jam 1 malam. Sepeda onthel ini dibongkar dibantu oleh 3 orang tetangga. Sambil berkombur bahwa sepeda ini sudah berumur lebih 100 tahun, rekan-rekan yang ikut membantu sampai ternganga-nganga mulutnya gak sadar lalat bisa masuk karena lebarnya mulut yang dibuka selain aroma yang terasa.

Besoknya setelah dibongkar sepeda ontel kembali mengalami pembenahan, amplas kasar dan halus silih berganti digosok seperti gerakan mengkerok badan untuk membuang cat dari sepeda yang memang catnya sudah tidak original lagi. Mengamplas body sepeda diperlukan waktu selama tiga hari. Tiga botol cat semprot habis terkuras untuk memberi warna hitam kabut pada sepeda tersebut. Hal yang menggelikan adalah pada saat memasang kembali sepeda pada dudukannya, baut-baut dan mur dipasang kembali ternyata ada yang berlebih. “Gak masalah, udah untung ini. Ada lebih baut dari pada kurang,” ujarnya padahal dalam hati masih penasaran takut sepeda lepas sendiri karena kurang baut pada saat show of force di lapangan Simare-mare Sibolga.

Memasang kembali tutup rantai adalah hal yang menantang bagi beliau. Setelah bersusah payah mencoba memasang tutup rantai tetapi tak berhasil juga Kurniawan menyuruh salah seorang kerabatnya bertanya ke bengkel sepeda, dengan berat hati dan sedikit muka masam karena tak sangup menolak perintah dari sang abang terpaksa juga ditemui teknisi di Bengkel Sepeda Sahat. Akhirnya hingga jam 1 malam sepeda selesai direstorasi dan langsung di uji coba laik jalannya.

“Sreg…..sreg……ssgrek…krok…..sreg……” suara sepeda. Ternyata sepeda yang dicoba malam itu masih bermasalah, velg-nya masih baling. Hasrat untuk mengayuh sepeda di acara senam sabtu pagi gagal total. Menjelang tidur beliau berharap subuh segera datang menjelang agar dapat segera membawa ke bengkel untuk mengganti velg yang sudah mendekati angka delapan baling tak karuan.

Rasa letih dan capek karena bergadang menyelesaikan sepeda terbayar sudah sepeda onthel Philips telah berhasil direnovasi, lengkap dengan tas petak di batang sepeda yang merupakan tas dari istri tercinta. Tas ini diperoleh setelah membongkar lemari, pegangan tas dibuang terus dimodifikasi untuk ditempatkan di batang sepeda. Setelah ketahuan, sang istri hanya bisa pasang muka masam kendati dalam hati memuji,”Wah suamiku ternyata kreatif juga”.

Minimal tiga kali seminggu sepeda ini dibawa ke kantor sebagai sarana transportasi. Bila ada waktu senggang beliau dengan istri tercinta berkeliling Kota Sibolga di sore hari. Di hari Sabtu pagi selepas senam pagi, beliau kembali ke rumah untuk mengantarkan aditya si putra sulung naik sepeda ontel ke sekolah SD yang jaraknya tidak jauh dari kediaman. “Untuk membudayakan dan menimbulkan kecintaan sepeda onthel kepada anak,” ujarnya.

Ketika ditanya bagaimana agar virus onhtel ini tetap membahana, beliau menekankan kepada generasi muda sekarang untuk mencintai sejarah karena hal ini merupakan cikal bakal untuk masa mendatang. “Kalau kita mencintai sejarah maka othel akan tetap maju, dan ini sudah dibuktikan dengan banyaknya anak-anak di Kota Sibolga selepas sholat tarawih di bulan Ramadhan ini berkeliling kota naik onthel tanpa gengsi,” ujarnya menutup pembicaraan yang dilakukan melalui chat di Yahoo Massenger.(teropongkaca)

 

About these ads

8 responses to “Jadikan Ontel Sebagai Kebutuhan Bukan Trend Semata

  1. tetap semangat…. :D

    “Setuju bang, semangat harus tinggi, onthel harus maju”

  2. Ingat tip melaju cepat dengan onthel ?
    (anda hanya akan sukses jika mempraktekkannya dengan “rasa”)

    1.Pandangan lurus kedepan, pegang grip dengan mantap
    2.Bungkukkan badan sedikit kedepan, dikit lagi….OK
    3.Everythings will be allright, insya Allah mesin onthel anda
    berputar lebih cepat.
    4.Lakukan gerakan diatas dengan perlahan / smooth
    tidak tergesa-gesa, tak lari gunung dikejar, demikian pula
    gerakan kembali dari membungkuk menjadi tegak kembali

  3. ontelnya kasih lampu bang, jadi kalo malam bisa jalan2 hhehehe…, salam damai

    Saran akan disampaikan kepada Bang Kurniawan, kebetulan abang ini lagi minjam sepeda orang lain sewaktu foto itu diabadikan.Sepeda Philips kesayangannya lagi diistrahatkan di rumah. Thx bang dah mampir ke web blog SGBC.”

  4. “Setuju bang, semangat harus tinggi, onthel harus maju” (ngutip diatas), memangnya sepeda onthel ada gigi perseneling mundur ?? setahu saya dijagad ini yg namanya sepeda onthel hanya dikayuh untuk maju ….ha….ha….ha…..

    Salam.-

  5. buat orang pinggiran…makasih sarannya.
    he..eh, tul yg dibilang bung Admin..kbetulan saya pake speda tmn pas photo2 itu, krn speda sdh saya “selamatkan”…kebetulan g nyangka klo ada moment photo2 an…trimss

    Bagusnya buat lagi foto yang keren, agar dilihat dongan2 semua. Gimana bang…”

  6. Ketika suatu telah menjadi kebutuhan maka orang akan melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan itu.
    Buat Pak Kurniawan, semoga onthelnya senantiasa menjadi teman terbaik dalam bekerja maupun melakukan aktivitas lainnya. Bukan hanya sekedar pajangan maupun hanya untuk kegiatan tour semata, kasihan ntar onthelnya (……kan udah jadi kebutuhan).
    Sukses selalu..Salam Onthel
    Say’s no to Global Warming, say’s to greens world.

    “Betul nech saran Pak Cik Doel..saran yang sangat bagus.”

  7. ada beberapa thema populer yang seringkali diusung pesepeda onthel baik lokal, interlokal maupum internasional :
    1. environment (green, global warm,back to nature)
    2. sport
    3. oldies
    4. komunikatif (ramah)
    5. interaktif (silaturrahmi)
    ente setuju, tambahkan atau kurangi – coba ingat event-event yang sudah dilaksanakan , apa yang kita dapat sesungguhnya??????

  8. Terimakasih sahabat, mari kita jadikan Sepeda sebagai alat Moda Transportasi jarak Pendek, untuk menuju Kantor ,Sekolah, disamping kita mendapat kesehatan, mengurangi anggaran, mengurang Polusi udara dsb. salam kenal dari Medan, dulu saya di Polres Sibolga.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s